Showing posts with label fendi kachonk. Show all posts
Showing posts with label fendi kachonk. Show all posts

Wednesday, 1 October 2014

RITUS SEPI (FENDI KACHONK)

OLEH : FENDI KACHONK

Pertanyaanku, apa kita akan membahas luka yang makin merah ini?
Sedang kehampaan makin riang menyanyikan lagu sendu. Baru berapa saat taman ini seperti neraka. Tergambar jelas. Langit pecah dari pelipis matamu. Sedangkan mataku tak mampu mengenali lagi. hutan yang dulu rimbun dengan senyuman. Kini hanya menyajikan tarian sunyi. Setelah jejakmu dibawa terbang angin lalu. Seperti debu, aku.

Moncek, 170814

Tuesday, 30 September 2014

DAUN-DAUN HITAM YANG BASAH ( Fendi Kachonk )


oleh: fendi kachonk
“Sebuah catatan proses agenda”
Peluncuran Antologi Hujan Kampoeng Jerami dan Daun-daun Hitam
Oleh: Fendi Kachonk

“Semalam ada berapa hal yang tak aku nikmati, sembari ingin memejamkan mata, ingin terlena dibuai mimpi. Tapi, tak bisa aku kalahkan berapa pikiranku. Agenda yang aku susun hari ini, dan berapa halnya lagi aku tak mengerti datang, timbul lalu tenggelam."

“Hey, Fen!” sapa Encing, seorang yang aku tak paham dari mana awalnya mengenali dan dekat sekali. Bekerja di Pos Lenteng, tempat aku ngutang duit, bahkan kadang kantor pos aku jadikan tempat aku singgah, istrihat, makan dan minum serta pernah aku jadikan kantor Pos Lenteng sebagai tempat pertemuan kecil dengan kawan-kawan kala tak menemukan tempat yang gratis saat ada acara ngumpul bareng semacam diskusi.

Jam, 6.23 WIB, aku sudah rapi, dengan berbagai daftar kegiatan hari ini. Tiba-tiba aku merasakan ada sedikit keharuan. Melihat tumpukan buku “ANTOLOGI HUJAN KAMPOENG JERAMI” lalu terbayang semua kejadian, seminggu yang lalu kami mengadakan tiga acara peluncuran buku,”Hujan Kampoeng Jerami dan Daun-Daun Hitam” kumpulan cerpen seorang kawan dari Lampung.

Perempuan itu kadang aku panggil Yuli Nugrahani, Kadang juga aku panggil Kakak, tapi tak pernah aku panggil dia dengan sebutan mba’ karena aku selalu menganggap kakak, dan kurindukan kakak laki-laki dalam kehidupanku. Maklum kakak dan adikku perempuan. Oleh berapa ingatanku, aku sempat tertegun. Wajah Umirah Ramata, adikku yang ada di Taiwan, Lia Amalia Sulaksmi, Teteh, begitu biasa aku sebut dia. Tangan-tangan mereka yang mampu dan sabar selama ini berproses dengan kami, membangun Kampoeng Jerami dengan semangat, naik turun emosi dan semua luapan kejadian yang sama pernah kami alami.

Lebih kurang dari setengah bulan, aku, Yuli, Lia, dan Umirah memutar dengan cepat proses Buku “ Hujan Kampoeng Jerami” itu proses yang sebelumnya berapa bulan sempat terkendala. Tetapi, semangat yang luar biasa dari mereka membuat buku ini siap. Kemarin tepatnya seminggu yang lalu, aku mengulang kenangan, pada hari : Jum’at, 5 September 2014 kami meluncurkan buku Hujan Kampoeng Jerami dan Daun-daun Hitam. Di tiga tempat itu ada pos kerja yang sangat aku banggakan dengan kegigihan anak muda yang luar biasa semangatnya, aku biasa memanggilnya dengan sebutan “alek” dalam bahasa madura yang bisa diartikan ke Indonesia dengan “adik”.

Ferli seorang adik yang mengawal pertemuan pembuka dan sangat takjub, agenda yang aku pikir akan sangat kecil tingkat kehadiran peserta malah sampai full dan tak kurang dari 50 orang jadi peserta. Tak kalah membanggakan fasilitator yang menyempatkan diri di mana kesibukannya sangat padat. K. Muhammad Muzammiel El-Muttaqien berkenan hadir dan membuat situasi hangat serta menyehatkan.

Oh, waktu begitu cepat, seminggu yang lalu itu telah berlalu, tinggal kenangan dan kumpulan semangat untuk merenda hari dengan berproses dan belajar terus masih kental di dalam ingatan. ingatan aku juga berputar pada suatu siang, setelah acara di laksamuda Sumenep kami evaluasi dengan sederhana bersama kawan-kawan, “Sukses acaramu, Fen”. Ujar kawan-kawan kepadaku. Dan pada saat itu, setelah berapa saat mengajak Yuli berputar di seputaran kota. Melihat keraton lebih dekat, dan lalu aku harus fokus pada waktu pertemuan kedua di Pondok Pesantren Putri “ Tarbiyatul Banat.” Di hape sudah ada berapa kali miskol, tepatnya telpon yang tak terangkat dari K. Ali Faruq. Sesampai di rumah, aku masih mencuri pandang pada wajah Yuli yang masih kerap tersenyum dan siratan letih mulai ada. Tapi, aku memang sangat kejam ketika sudah fokus. “Yuk, Yul. Kamu boleh mandi atau cuci muka sebentar lagi kita berangkat.” Kataku pada Yuli dan Yuli tak ada komentar hanya menuruti. Ih. Maaf ya, Yul. Bisikku dalam hati.

Lalu teringat pada kawanku yang sangat luar biasa dalam membantu aku selama ini. “Sigit, kamu di mana?” Bathinku. Aku SMS Moh Ghufron Cholid. Lalu mereka berdua segera sampai di rumah, Sigit selama ini begitu sangat peka mengambil peran-peran penting yang tak bisa aku lakukan sendiri. Karena memang ketika dalam ruangan, aku tak bisa ada di dua keadaan, moderator dan mengambil dokumentasi. Maka Sigit sangat sigap mengambil peran itu dan memainkannya dengan mulus. Temanku yang satu ini memang luar biasa, dia bisa memahami gerak dan kebutuhanku tanpa aku harus ngomong. Jiwa senimannya yang seorang pelukis, pemusik dan penulis mengasah kepekaannya selama ini. Terima kasih banyak cuy.

Siang itu, dengan rasa yang mulai letih, oleh sebab sebelum masuk pada kegiatan di Sumenep, kami berlima, aku, Yuli, Gufron, Jailani, dan Ferli adikku ini masih juga berdiskusi di Asta Tinggi, membaca puisi dan cerpen dilanjutkan ke Taman Bunga Sumenep dan tentu kami ngopi bareng demi merayakan satu keindahan dengan cara sederhana, lesehan di Taman Bunga.

 “K. Faizi apa bisa rawuh, Fen?” Tanya K. Ali Faruq. Dan, aku mulai kebingungan ada yang lepas dari ingatan untuk mengkomfirmasi ulang ke K. Faizi. Beliau aku sms, aku telpon dan belum ada jawaban. Tapi, selang berapa menit kemudian. “saya sudah siap-siap mau berangkat.” Sms di hape jadul saya memberiku telaga yang bening oleh konfirmasi K. Faizi tersebut.

Aku berjudi dengan waktu, sesegera mungkin acara segera kami mulai, Nyai Ulfah sebagai MC mulai mengatur acara dan memperkenalkan Yuli Nugrahani, Ufron dan Sigit telah bertindak sebagai penyokong keberhasilan acara di sana. Sampai pada sesi acara diskusi dan bedah buku, “Antologi Hujan Kampoeng Jerami dan Daun-daun hitam.” Aku memandu. Sambil menunggu kedatangan K. Faizi, aku dan Yuli memberi semangat kepada santri perempuan untuk menulis, menulis apapun, mulai dari sekarang dan jangan ditunda, itu inti dari yang kami sampaikan berdua.

Wow, mataku dan Yuli tak berkedip melihat K. Ali Faruq membacakan puisinya dan sangat luar biasa, aliran energi di ruangan itu jadi hangat sekali. Aku merasakan ada di tempat yang membakar seluruh badanku. Yah, oleh semangat yang buncah. Sekitar 15-20 menit K. Faizi sudah bergabung bersama kami. Beliau dengan lembut, serta humor yang manis memberikan suasana yang luar biasa jadi gurih dan renyah. Waktu terus berlalu. Tak terasa sudah mau magrib. Akhirnya usai sudah agenda. Kami akhirnya berpamitan, terlebih dahulu aku berterima kasih kepada K. Faizi dan akhirnya beliau pamit undur diri lebih awal karena persoalan pesantren yang sudah menunggu beliau. Di Tarbiyatul Banat inilah, dulu aku mengenal K. Faizi,  sewaktu beliau jadi Juri baca Puisi Tingkat Madura dan kebetulan saya jadi di antara pemenangnya. Pada waktu itu, K. Mursyid begitu aktif dan hatiku kembali berbisik. Mari kita gairahkan kembali K. Mursyid. Serupa doa aku lepas dengan memandang langit.

Moncek sudah diselimuti malam, sampai juga di rumahku, Taman Baca Arena Pon Nyonar, taman baca sekaligus tempat aku menulis dan membaca. Yuli sudah aku lihat kuyu, hanya binar matanya masih berbicara, tepatnya, sok kuat dan masih bergairah. Sedang geraknya mulai lamban. Aku meminta Sigit menemaninya. Sedang aku pura-pura menemani Surga hanya untuk sebentar memberi lelap pada mataku. Ah, akhirnya kami dapat telpon dari adikku. Hasmidi Ustad ketua Sanggar Rakyat Merdeka dulu kami berproses bersama di sana. “Kak, Kawan-kawan KKN INSTIKA putri sudah ngumpul. Mariklah mohon dicepatkan rodanya.” Aku tersenyum dengan bujukan manis adikku yang kemarin jadi lulusan terbaik di sebuah perguruan tinggi di kotaku ini. Dan, mereka paham, dalam keletihan mereka tak akan mendesakku, kecuali membujukku dengan lembut. Aih. Ah. Lebay kau, Fen. Biarin. Hehe.

Bukan karena ada Yuli di motorku. Tapi, memang dalam setiap segala suasana, aku biasa menyanyi waktu naik motor, waktu apapun, apalagi saat letih dan capek. Aku biasa menghibur diriku. Inilah cara paling hemat untuk kembali melonggarkan syaraf-syaraf otakku. Dan memang luar biasa, berasa semangat, berasa muda dan lagi, dan yang paling hebat jarak tempuh tak terasakan sama sekali. Sedang yang aku bonceng mungkin telah hidup dengan dunianya. Melamun dan bisa jadi sedang bilang, “Ne, anak kok gila ya?”

Maka, sampai pada tempat itu, tepatnya acara ketiga kami sangat menarik dan sangat tak kalah unik dan menggemaskannya sama dengan dua acara sebelumnya. Yuli jadi magnit, dan pembicaraan mulai soal tulis menulis sama seperti jarum jam yang terus berputar. Bergantian. Hasmidi, Ufron dan Mahasiswi membacakan Kumpulan Puisi Hujan Kampoeng Jerami dan Yuli Membacakan satu cerpennya dari kumpulan cerpen Daun-daun Hitam. Sampai akhirnya Yuli menutupnya dengan pantun yang tak kalah legitnya.

Kami pulang, Jailani, Ufron, Sigit, aku dan Yuli sampai juga di rumahku. Yuli bertanya, “Fen, kita berangkat jam berapa ke Surabaya? Yang pasti saya harus sampai di Kediri sekitar jam 8 atau paling telat jam 9 karena aku harus meminta sarapan kesukaanku pada ibu. “Jam 11.30 “. Jawabku. “Oke” kata yuli. “Kalau begitu aku aktifin alarmku ya?”. Tapi, setelah jam 11 malam ke setengah jam selanjutnya tak ada tanda Yuli bangun, dan aku paham pasti dia capek kataku. Dan aku akan memenuhi undangan kawan-kawan di Surabaya untuk monolog "suara-suara hampa" di Dewan Kesenian Surabaya.

Sampai jam 12 malam aku gugah. “Kak, Kak. Jadi pulang malam ini” suaranya parau. “Iya,” katanya. Dia pun keluar dari kamar dengan masih melipat wajah dengan bentuk persegi empat. Aku tersenyum. Di hatiku membantin, kau tak sempat makan nasi jagung, sate madura, dan legen. Tapi, aku juga merasakan keletihan, bagiku. Dan Yuli, mengingat masa muda waktu masih disebut aktifis jalanan, kami akhirnya bergerak ke Prenduan. Yuli dan aku. Sigit dan Ufron melaju dan menerebas dingin desa-desa kami.

“Uiy, Fen!” Encing mengagetkan aku. “Melamun saja dari tadi” lanjutnya dan ternyata aku melamun di kantor Pos Lenteng. "Eh, Cing, duitku tak cukup neh, aku hanya ada 150 ribu. Ngutang dulu boleh gak?” kataku pada Encing si Pegawai Pos itu.

“Boleh, apa yang tidak untukmu, Fen.”

Aku tersenyum dan semua mengalir bersama dengan waktu, proses kami baru mulai dari buku Hujan Kampoeng Jerami membuat kami sadar. Bahwa hidup akan selalu terus berlalu, dan aku bagian orang yang tak mau diam tanpa melakukan sesuatu. Aku tak mau menunggu, bergerak dan belajar bersama, tersenyum dan bergembira. Inilah aku. Inilah kami yang sangat bahagia dengan proses sederhana kami. Mari terus menulis. Mari saling mendukung. Tak semudah membalikkan telapak tangan, semuanya butuh proses. Dan kuatlah wahai seluruh teman-temanku.

Demikian, terima kasih untuk semua orang yang telah mendukung Kampoeng Jerami.

Monday, 29 September 2014

MEMILIH “PASRAH” PADA PUISI

Esai Apresiatif pada karya Ferli.
Oleh : Fendi Kachonk

Pasrah

berlalulah jika memang daun daun hatimu mulai menguning
ranting bisa saja patah meski udara bertiup lirih
tidaklah dosa mata yang terpejam pura pura tak mengenal pagi
penyesalan tak harus menjadi artifak malam
biar,biarkan saja kenangan tersimpan dalam kotak kotak kecil
aku sudah terbiasa melihat gelombang memeluk bibir pantai
lalu kembali berlari dan menari
aku sudah terbiasa melihat hujan kala reda lalu menyisakan gerimis
kita yang sebenarnya asing kembali menjadi asing, 

Rh 26 sep 14


Sudah berapa minggu, atau berapa bulan saya selalu menolak kahadiran puisi, seperti ini saya menolaknya. “Maaf saya bosan melihat wajahmu yang itu-itu saja,” puisi pergi dengan tak meninggalkan apa-apa kecuali harum tubuhnya yang sebenarnya memikat saya untuk menuliskannya. Tapi, kesadaran dan alam bawah sadarku memiliki kecamuk dan pertikaiannya sendiri. Tak berujung, tak menepi, perang logika dan rasa sering mengalungkan kepedihan yang lebih kejam dari perang yang sesungguhnya. Maka saya pun sering terdiam, tak menoleh pada puisi siapa pun yang berseleweran di depanku. Kadang saya tersenyum, kadang air yang hampir menetes manakala ada satu rasa yang saya dapatkan dari membaca atau (baca) saya tak sengaja lebur dengan puisi-puisi itu.

Berapa pertanyaan perdamaian kerap saya buatkan, mulai dari pembahasan, pertemuan kecil di kotak hitam, lalu belum juga ada kesepakatan untuk berhenti dari perang-perang pradigma, logika, perasaan dan entah sampai semuanya seperti berlalu dengan titik hitam yang kelam. Tapi, sekali saja atau berapa kali saya mengingkari kesepakatan dengan saya sendiri, seperti perang itu, saya mesti melewati garis putih yang saya tahu ketika saya melintasi garis itu, sakit dari akibat kenekatan saya akan sedikit mengurangi ketenangan jiwa saya, kerap mungkin saya akan merasa bersalah, padahal, secara sadar, rindu untuk menengok rumah puisi, dan merasakan hadirnya di jantungku begitu dekat, kaki dan tanganku seolah bergerak tanpa aba-aba, di pasir, di tubuh pohon, atau di bekas koran puisi kembali saya tuliskan.

Saya hampir memilih kemarau, untuk tak mengenang tentang puisi, pertemuan pertama, matanya dan laju kereta yang mengantarkan pertama kali saya datang ke kotanya, kota yang berisikan bunga-bunga, kesejukan dan ribuan kupu-kupu, kota yang dulu indah, kini juga semakin terselip kenangan kecil tentang air mata manusia, dari hidup, sampai semua kelukaan adalah puisi itu sendiri, maka kerap saya yakinkan, saya mencintai puisi karena saya begitu cintanya kepada kehidupan ini, dan kehidupan itu akan lahir dari mata personal, tumbuh jadi kata dan kalimat yang terpendam lalu muntah begitu saja membangun rumahnya sendiri, menghiasi kamarnya dan membuat mimpinya sendiri, itu puisi? Ah berapa kali saya menolak itu curhatan, ah, itu basi dan saya menampar lagi jiwa saya, jiwa yang menolak daerah personal dibeber di depan umum. Tapi, seolah perdebatan panjang saya dengan diri saya yang lain. Puisi itu mahluk aneh, ia kerap buat kita tersenyum, menangis, berduka, sedih lalu hampa. Apa itu tak personal dan apa itu bukan puisi? Karena bagaimanapun puisi telah mampu sampai ke relung jiwamu, andai dia bawa bunga berwarna merah jambu, maka wajahmu akan merona, andai dia membawa kafan, maka matamu sembab, dan andai dia menggelitikmu, maka dirimu akan tertawa dan memeluk puisi serta menciumnya.

Oh, saya rindu puisi, saya ingin menulis namanya lagi, saya akan memperlakukannya dengan baik, saya dan saya, terlalu banyak janji saya buat ketika perasaan itu mengeksodus pemikiran dan kerja logika, saya mulai tak mau menggunakan logika saya untuk melihatmu puisi, jiwaku membutuhkanmu, meski ruang dan pertemuan kini seolah sempit, di jalan yang hening, di jalan yang gelap, atau di jalan di mana orang-orang banyak dipinggirkan oleh kehidupan. Saya seolah berjalan di mana puisi biasa melintasi dan saya mendatangi di mana puisi pernah berteduh di emperan toko di dekat para gelandangan tidur dengan lelap meski kaki-kaki melangkahi tubuhnya, puisi memberinya selimut hangat dan mereka telah indah dengan keindahan yang tak dilihat dari pandangan umum.

Nah, akhirnya saya pasrah dan takluk pada hal pilihan lain, saya akan menikmati semua yang akan diberikan puisi pada saya, hening, hampa, luka, derita dan duka akan saya sesap dengan senyum. Saya akan mengamini keindahan dalam semua kecupannya pada luka yang belum kering di punggung, saat saya membopong puisi dari kerumunan penyamun, saat kakinya pincang dan puisi tersedu, saya akan merawatnya, entah. Apakah ini pengorbanan? Untuk puisi tak ada pengorbanan, karena semua tubuh puisi, tubuhku. Ah, saya ingin mengaitkan kegelisahan saya dengan puisi karya anak muda dengan bahasa yang mulai beranjak dewasa, bukan karena dorongan syahwat pertemanan, saya berapa kali akan mengoceh panjang padanya bila menyodorkan puisi yang tak sampai.

Di suatu suasana rasa yang berbeda, Ferli menulis hal lain dari apa yang saya rasa, tetapi, saya mendapatkan suasananya dengan jabaran kejiwaan saya yang lagi stabil melihat puisi. Maka meski demikian saya menarik puisi Ferli atas dorongan perasaan yang terdalam dan mampu membuat saya tercekik oleh rasa-rasa yang saya tak pahami. Ferli menulis hal lain, jelas puisi ini mengesankan perbedaan dan perpisahan, keharuan dan memilih “pasrah” dalam setiap detik perjalanan untuk tak lagi satu arah dan diam-diam mengamini setiap perubahan, dan Ferli berhasil membahasakan kelukaannya dengan symbol dan tanda-tanda.

Berlalulah jika memang daun daun hatimu mulai menguning.

Bagaimana metafor itu dimainkan sedemikian asyiknya, sehingga suasana hampa lahir dari “daun-daun hatimu “menguning” dan menguning itu menjadi symbol yang seolah akan kering lalu gugur. Menarik bukan ketika bahasa muda yang beranjak dewasa ini pelan-pelan jadi muara perdebatan yang panjang mulai saat Ferli menulisnya di wallnya dan saya sudah terpana, saya jatuh cinta kembali kepada puisi, entah curhat, entah apapun itu rasaku yang mendorong saya kesana.

Terus apa lagi yang saya dapatkan dari puisi Ferli ini. Misal baris kedua juga mengantarkan pada musim gugur, dengan, ranting bisa saja patah meski udara bertiup lirih, oh tanda“ranting” juga pintu masuk untuk kembali lebur di metafor “udara bertiup lirih.” Inilah dua baris yang saling mengikat dan memperkuat tubuh puisi yang sintal, sampailah efek suasana yang menemui pembaca dengan berbagai nuansa dan maknanya. Saya pun begitu oleh karena berapa hal, saya persis atau tepatnya seolah puisi Ferli ini adalah kejenuhan, rasa yang saya alami setelah akan dan telah memilih ikhlas untuk ditinggalkan puisi.

Bagaimana dengan baris yang lainnya? Apakah Ferli mampu mempertahankan dua baris kuat di atasnya, atau kembali merunduk. Mari ini saya hidangkan kekuatan bahasa Ferli. Oleh memang itu saya rasakan.

tidaklah dosa mata yang terpejam pura pura tak mengenal pagi
penyesalan tak harus menjadi artifak malam
Biar,biarkan saja kenangan tersimpan dalam kotak kotak kecil
aku sudah terbiasa melihat gelombang memeluk bibir pantai lalu kembali berlari dan menari.

Di baris-baris ini Ferli agak longgar memainkannya, tapi tetap saja Ferli berhasil mengaluri dengan diskripsi yang menarik dan menuai imajinasi untuk hal itu juga berhasil memberikan nuasa yang kelam, lihat kata “ Artifak malam” dan “Kotak-kotak kecil” lalu di atas pada baris pertama “mata yang terpejam pura-pura tak mengenal pagi.” Seolah kesedihan itu purna pada kalimat itu, bagaimana hebatnya ketika pura-pura menutup mata dan tak mengenal pagi. Atau pura-pura ikhlas tapi sebenarnya perih terasa, atau sama dengan saya, saya pura-pura membenci puisi padahal selalu akan rindu akan hadirnya. Dan, pada baris terakhir kembali ada kalimat, “ aku sudah terbiasa melihat gelombang memeluk bibir pantai lalu kembali berlari menari.” Luar biasa efek dari kalimat ini, kita diajak berkelindan dengan mengikuti kata ke perkata saat ada ketukan kalimat, melihat gelombang memeluk bibir pantai lalu kembali berlari menari. Ini satu kata tegar yang dirangkai pada ruang kalimat yang berbeda.

Ferli berhasil memulai, berhasil mengembangkannya dan berhasil menutupnya, dan okelah saya akhir melahirkan sebuah tanya pada diri saya, apa kira-kira ini menurutmu kerja logika, Fen? Ah aku jadi malu, dan tak menjawabnya dan aku merampas semua kenangan untuk berpuisi kembali dengan menutup esai ini, sebuah kecupan, dan rasa sayang kepada pengkaryanya. Lalu seolah aku dan Ferli sama-sama mengatakan dengan Koor : aku sudah terbiasa melihat hujan kala reda lalu menyisakan gerimis. Kita yang sebenarnya asing kembali menjadi asing.

Luar biasa, kembali saya mendapatkan semangat untuk berkarya, demikian semoga sama-sama bisa belajar bersama, semua orang guru dan alam raya adalah sekolah.
resep donat empuk ala dunkin donut resep kue cubit coklat enak dan sederhana resep donat kentang empuk lembut dan enak resep es krim goreng coklat kriuk mudah dan sederhana resep es krim coklat lembut resep bolu karamel panggang sarang semut>